Muradi: Kalau RK Tetap di Jabar, Dedi Mulyadi Jadi Kompetitor Serius

 Muradi: Kalau RK Tetap di Jabar, Dedi Mulyadi Jadi Kompetitor Serius

Politisi Golkar Dedi Mulyadi (Foto: istimewa)

Tasikmalaya – Kemunculan nama politisi Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam 10 besar Top of Mind Pilihan Presiden hasil survei Indikator Politik Indonesia, mendapat tanggapan dari Prof Muradi, pengamat politik dari Unpad Bandung.
“Saya tak terlalu melihat potensi dia ke nasional, is too far kalau jadi presiden,” kata Muradi, saat ditemui di kampus Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Kamis (13/1/2022).

Alih-alih menjadi calon Presiden, Muradi justru melihat peluang besar Dedi Mulyadi untuk menjadi Gubernur Jawa Barat.

“Saya curiga beliau (Dedi Mulyadi) ke Jabar, nggak ke nasional. Karena yang dia ambil selama ini adalah isu Jabar. Poin pentingnya, kalau RK (Ridwan Kamil) ke nasional maka Dedi punya peluang. Kalau RK tetap di Jabar, maka Dedi akan menjadi kompetitor serius,” kata Muradi.

Muradi memaparkan alasan opininya menyebut Dedi Mulyadi sulit menjadi calon Presiden. Menurut dia Dedi selama ini hanya berkutat pada isu-isu lokal Jawa Barat. Berbeda dengan Ganjar Pranowo atau RK yang membawa atau mengolah isu lokal menjadi isu nasional.

“Kalau Ganjar dia mengolah isu Jawa Tengah lalu dibawa ke nasional, RK juga demikian. Nah kalau Dedi Mulyadi saya melihat dia ingin dikenal sebagai tokoh genuine Jawa Barat,” kata Muradi.

Dia menilai jika Dedi Mulyadi ingin mulai bermain di bursa calon Presiden maka harus mengikuti langkah tokoh lainnya. Mengolah isu lokal menjadi isu nasional. “Misalnya dia bergerak ke Bali, atau lainnya,” kata Muradi.

Namun terlepas dari hal itu Muradi menilai Dedi Mulyadi terdongkrak elektabilitasnya sebagai imbas popularitas media sosial yang dimilikinya.

“Lihat saja kanal Youtube miliknya, itu kan diikuti jutaan orang. Itu poin penting dari publikasi Dedi Mulyadi. Jadi menurut saya hal wajar jika kemudian nama Dedi melambung bahkan mengalahkan Ketua Umum Golkar Airlangga,” kata Muradi.

Muradi menambahkan adalah sesuatu yang wajar jika elektabilitas atau popularitas Airlangga kalah oleh Dedi, karena Airlangga masih berkiprah dengan cara-cara offline.

“Wajar kalah, karena masih offline. Masyarakat hanya disodori gambar-gambar di jalanan kan,” kata Muradi.

Sebelumnya politikus Golkar Dedi Mulyadi menyalip elektabilitas Airlangga Hartarto, yang notabene ketua umum Golkar dalam survei terbaru Indikator Politik Indonesia tentang Top of Mind Pilihan Presiden pada periode survei 6-11 Desember 2021.
Dari hasil survei, elektabilitas Dedi Mulyadi meraih 1 persen atau di posisi ke-9, sementara Airlangga Hartarto jauh di bawahnya hanya 0,1 persen.

Sementara untuk posisi pertama ditempati Presiden Joko Widodo 20,8 persen, Prabowo Subianto 13,1 persen, Ganjar Pranowo 8,9 persen, Anies Basdewan di posisi keempat 8,7 persen. Posisi ke lima ditempati Ridwan Kamil dengan elektabilitas hanya 1,9 persen.

Dedi Mulyadi sendiri mengaku tak mau ambil pusing. “Ah saya mah sekarang fokusnya kerja dulu,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini saat ditemui di Purwakarta, Selasa (11/1/2021) sore.

Jawaban yang sama dia lontarkan saat kemungkinan ia kembali bertarung di Pilgub Jabar 2023 nanti. “Saya mah tidak punya rencana apa-apa, hanya jalankan apa yang ada sekarang saja,” ujarnya.*

Bagikan dengan klik salah satu sosmed dibawah ini :

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.